Freedom !!

People say, next to freedom is education. It means that only education that can be used to run our freedom atmosphere in our life.

We have learned very much from long time ago, when we were colonialized by other countries. We were separated by by tribes, native languages and locations where we lived.

But the most important thing is we were isolated by education. We were not educated enough to understand everything including that national unity is much more important than tribal unity.

So, what we can do today? After everything has changed?
After we free?
After all has become our own?

Next to freedom is education.

If we have got our national freedom, education will lead us into the understanding of living among nations in the world.

We are ready to face the future together with the other countries in the same level. We can manage international freedom, keep good relationship each others and make our lives better.

Indonesia is a great country with many clever people there. Now, what we are waiting for? Lets come together to built a super power country!

Kisah Pohon Solomon

Adalah sebuah kebiasaan yang ditemukan di sekitar penduduk kepulauan Solomon, yang terletak di Pasifik Selatan. Yaitu meneriaki pohon.

Untuk apa mereka lakukan?

Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan ketika mereka menemukan pohon yang sangat besar dan berakar kuat. Mereka kesulitan untuk menebang pohon tersebut dengan cara biasa. Oleh karena itu, mereka melakukan cara yang menurut mereka tidak pernah gagal, yaitu dengan meneriaki pohon tersebut. Beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat ke atas pohon. Kemudian mereka akan berteriak sekuat tenaga pada pohon itu. Mereka lakukan berjam-jam lamanya selama berpuluh-puluh hari.

Apa hasilnya??

Sungguh mengejutkan!

Hari demi hari pohon tersebut mulai menggugurkan daun-daunnya yang kering. Merontokan ranting-ranting yang rapuh. Perlahan, pohon itu layu dan kemudian mati. Dengan demikian, pohon itu akan mudah untuk ditumbangkan. Sungguh semudah itukah mematikan makhluk hidup yang besar itu?

Jika kita perhatikan, apa yang dilakukan oleh penduduk Solomon itu sangan aneh. Namun, dibalik keanehan itu ada satu hal yang bisa kita pelajari. Sangat berharga!!

Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap suatu makhluk hidup bisa mematikan roh makhluk hidup tersebut. Dia akan mati dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Nah, sekarang apa yang bisa kita pelajari dari fenomena tersebut?

Sangat berharga sekali!!

Setiap kali kita meneriaki seseorang dengan kasar, maka setiap itu pula kita sedang mematikan rohnya.

Seringkah kita berteriak pada anak kita karena jengkel, nakal, dan susah diatur? Cepaaat! Lelet banget sih kamu! Kerjanya Cuma tidur! Disuruh begitu aja gak becus!

Seringkah kita berteriak pada orang tua kita karena kesal? Kenapa sih nyuruh-nyuruh terus! Cerewet banget sih!

Seringkah seorang guru berteriak pada muridnya? Payah banget sih soal kaya gini aja gak bisa! Kamu bodoh! Dasar lelet!

Seringkah kita berteriak pada teman kita? Dasar kurang ajar! Gak tau malu! Gaptek! Tolol! Bego!

Seringkah kita berteriak pada pasangan kita? Aku bener-bener nyesel nikah sama kamu! Kamu gak pernah berguna jadi pacar aku selama ini!

Disadari ataupun tidak, itulah realita yang terjadi dalam kehidupan kita.

Kawanku yang baik hatinya…

Jika rasa dan asa ingin segera melontarkan kata yang kasar dari mulut kita karena merasa kesal, terhina, marah, dan terluka… Ingatlah pada apa yang diajarkan oleh penduduk Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita berteriak, maka setiap itu pula kita mulai mematikan roh orang-orang yang kita cintai. Mereka akan terluka. Mereka akan layu seperti pohon. Dan perlahan mereka akan merasa kosong.

Hidup ini adalah pilihan kawan…

Jika kita ingin roh yang ada pada diri orang-orang yang kita sayangi tetap ada, janganlah meneriakinya dengan kasar. Masih ada kesempatan untuk berbicara dengan baik-baik tentang apa yang kita harapkan. Tapi jika sebaliknya, apabila kita ingin membunuh roh orang-orang yang kita sayangi, maka berteriaklah sepuas hati. Hidup adalah pilihan…

Terinspirasi dari kisah nyata dan film”Every Child is Special”

Energy Book

Today, i have finished my reading. It`s hard to believe. I got the new energy from this book. I got many experiences, knowledge, motivations, inspiration, everything that great! It make me believe that everyone can do everything that he/she want if he tried hard and patient than others. Yeah, going the extra miles.

Everyone needs big dreams for make him/her survive in this world! it is not unquestionable. IT IS A MUST!

Everyone should have a dream to be achieved and struggled!

I will not give up!

I will never give up! I will never flinch!  despite facing a storm, rock falls, thunder booming. I will keep fighting for my dream!

My biggest dream!

For study abroad!!!

Take all the good things from them. Share all the best thing that I got to my beloved country, Indonesia! Indonesia! Indonesia!

 

Man Jadda Wajada!!

Man Shabara Zhafira!!

 

YOU WILL BE, RIMMA!!!

Some Differences between Indonesian and American Culture

There are many differences between Indonesian and American culture. Here are some examples that make them different:

First, is about eating food in the United States and Indonesia. Indonesian people eat the same food every day for lunch and dinner. That is rice. Rice is a main food for Indonesian folk. Even so, they eat it with other foods, like meat and vegetables. On the other hand, American people eat a variety of foods each day. In particular, they eat pizza, sandwiches, pasta or noodles, and sometimes meat for dining.

Another difference is how people prepare the food for lunch and dinner. In the United States, people take a longer time to prepare dinner than lunch. They cook the food approximately one and half-hours before eating. On the other hand, in Indonesia, people take a longer time to prepare a lunch than a dinner. For dinner, they usually warm the food that was cooked at noon instead of making more.

A final difference in eating food between the United States and Indonesia is the taste of the food. In general, Americans prefer a sweet taste or a little bit salty in their food. In contrast, most Indonesian people like a hot and spicy taste in their food. Also, Indonesian would like to eat food that still warms instead of food that is not warm anymore. Therefore they always warm their food before eating. On the other hand, American people admit to eat food that isn’t warm, like sandwiches.

Second, the different of driving a car. In general, the similarity of driving in the U.S and Indonesia is driver has to respect to pedestrians when they meet them on the street, specifically when the pedestrian want to across the street. They have to give opportunity to pedestrian first when the traffic light is red before they continue driving. If they don’t obey this rule, and an accident happens, they will get fine.

On the other hand, there are some different in driving in the U.S. and Indonesia. For example, crossing street without traffic light. People in the United States more respect to the pedestrian than in Indonesia in this situation. In Indonesia, a driver doesn’t care about pedestrian, if they don’t across the street on the appropriate place, like at traffic light. They keep driving fast, although they see pedestrian want to across the street. In contrast, in the U.S. driver always respect to pedestrian, although they across the street without traffic light.

Third, what Indonesians and Americans do when they are sneezing? In Indonesia, there are two kinds of action if they are sneezing. One, people will say “Maaf” when they are sneezing. It means “Sorry” in English. It shows a refine of the people. In this type, usually people who hear the sneeze don’t do or say something. They ignore it, because the sneezer already said sorry. Two, people who are sneezing will say “Alhamdulillah”. The people who hear the sneeze will say”Yarhamukallah”. Saying the words is also to respect the people close to the sneezer. It is Arab language. Moslem people usually use it. But in America, people usually don not say anything.

Forth and the last, the United States is very unique in the world because the accreditation or the system for setting national standards of quality in education is not administrated by government, but by committees of educators and private agencies like the Middle State Association of Colleges and Secondary Schools and the Society of Engineers. Meanwhile, Indonesia is administrated by the government.

Terjadi Lagi

Again..

Hari ini aku kehilangan data lagi. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Aku sampai menghela napas dan mengusap dada sambil berbisik; Apa salahku Ya Allah…? (banyak kalee…)

Yang paling membuatku hampir pingsan, itu adalah USB ibundaku… Semua data mama juga ikut raib. Bagaimana cara menceriterakannya kepada beliau?

Sungguh malang…

Tapi aku bukan si pemalang yang lemah!

Sungguh kasihan…

Tapi aku tidak minta dikasihani!

Sungguh bodoh…

Tapi aku bukan orang paling bodoh di dunia! yang selalu masuk kedalam lubang yang sama! yang selalu mengeluh pada keadaan! yang selalu meratapi nasib! Mulai hari ini aku bertekad untuk:

1. Mengerjakan tugas segera setelah diberi tugas

2. Menyimpan data di USB, di notebook, di computer

3. Selalu scaning USB sebelum dan sesudah masuk komputer

4. Merawat USB dengan sebaik-baiknya

Karena, ini bisa jadi ujian ataupun hukuman dari ALLAH supaya aku lebih gesit dan tidak malas-malasan .

ttd

Rimma Mutiara Putri

Kenapa aku kurus?

Mungkin bagi sebagian orang merasa agak asing jika mendengar pertanyaan semacam ini, karena biasanya pertanyaan yang paling sering muncul adalah “kenapa aku gemuk?”. Bagaimana tidak, dimana-mana, di buku, majalah, iklan, diskusi, dan media lainnya, kita akan sangat mudah menemukan tulisan yang membahas tentang penyebab gemuk, akibat gemuk, cara menurunkan berat badan, dan macam-macamnya sehingga orang akan tertarik membaca dan melakukan apapun titah dari buku, iklan, dan media tersebut agar berubah menjadi kurus.

Nah, sekarang lain halnya dengan yang dibahas diatas. Kenapa aku kurus? Ini jelas akan dipertanyakan bagi mereka yang memang merasa kurus. Mereka tidak PD, tidak nyaman, dan kurang puas dengan tubuh kurus mereka. Mengapa? Beberapa diantara mereka merasa tubuhnya yang mungil dan kurus sangat menggangu penampilan. Mereka merasa bahwa tubuh kurus itu tidak sexy (terutama wanita yaa). Dan lucunya lagi, sebagian diantara mereka yang kurus berfikir bahwa tubuh kurus jelas kurang menarik dipandang karena orang berfikir kalau si kurus itu kekurangan gizi dan hidupnya kurang bahagia.

Wkwkwkwkwk. Jujur, bagi saya alasan ini sangat lucu.

Belum lagi mereka akan sangat merasa risih jika teman-teman atau kelurga selalu berkomentar;

Ya ampuuun, kamu kurus banget si de.

Edan gila, dari dulu lu gak berubah ya?kuruuuuus mulu, kapan gemuknya coy?.

Ini tangan apa kayu ya, haha.

Makan yang banyak geura, sebelum tidur makan telor rebus trus minum susu biar gak gini.

Neng mah leutik wae geuning, Ema mah watir ningalina.

Diakui ataupun tidak, si kurus akan merasa geram mendengar celotehan orang-orang yang berkomentar seperti itu, dan sebagian memang terkesan meledek. Bukan hanya geram, bahkan dia bisa jadi merasa sedih.

Baiklah kawan, saya mengerti perasaan mereka yang merasa seperti itu (so bijaksana).

Sebuah penelitian pernah menyebutkan bahwa penyebab umum terjadinya kekurangan berat badan dan menjadi kurus khususnya pada perempuan adalah keinginan mereka dalam program diet untuk mendapatkan tubuh langsing yang ideal.

Selain itu, faktor genetik juga diketahui berperan dalam hal tersebut, sama halnya seperti obesitas. Kondisi genetik yang diturunkan pada seseorang dapat menyebabkan kadar metabolisme tinggi atau sel lemak badan yang kurang. Sehingga seringkali kita melihat seseorang dengan nafsu makan yang besar namun tetap memiliki tubuh yang kurus. Nah, kalau itu berarti memang karena faktor keturunan.

Faktor usia juga berpengaruh terhadap underweight karena semakin bertambahnya usia akan menyebabkan semakin berkurangnya kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi atau zat gizi dari makanan sehari-hari.

Faktor yang berpengaruh lainnya adalah penyakit-penyakit kronis seperti tuberkulosis (TBC), kanker, AIDS dan proses penyembuhan atau pemulihan yang melemahkan ketahanan tubuh serta memerlukan persediaan gizi yang lebih banyak. Sehingga bila asupan makanan berkurang sedikit saja maka nilai gizi di dalam tubuh juga akan lebih cepat berkurang.

Faktor yang selanjutnya adalah gaya hidup seseorang dalam mengonsumsi jenis-jenis zat tertentu seperti nikotin, kafein dan berbagai macam penyedap rasa. Zat-zat tersebut diketahui dapat mengurangi selera makan yang normal sehingga bila keadaan itu berlangsung terus menerus maka tubuh akan cepat menjadi kurus.

Banyak kasus kekurusan terjadi lantaran kurangnya asupan makanan yang dikonsumsi. Atau, kandungan kalori makanan yang dipilihnya rendah, sehingga kalori yang masuk kurang, meskipun jumlah makanan yang dikonsumsi banyak. Itu terjadi, misalnya, pada mereka yang mementingkan makan sayur dan buah-buahan, tanpa asupan protein hewani serta karbohidrat yang cukup.

Faktor lain, bisa jadi si kurus mengidap penyakit tertentu yang menyebabkan nafsu makan turun, sehingga asupan energinya pun menjadi rendah.

Dan maniak olahraga juga ternyata bisa mengakibatkan kurus karena tidak seimbang dengan asupan gizi dan tenaga yang dikeluarkan.

Penurunan berat badan membuat imunitas tubuh ikut menurun. Akibatnya, risiko terhadap serangan penyakit infeksi akan meningkat. Namun, tidak berarti semua orang kurus tidak sehat badannya, loh. Ada yang berperawakan kurus, tapi kesehatannya cukup baik energik dan bugar. Dalam kasus demikian, mungkin itu faktor bawaan. Buat dia, makan banyak pun “tidak akan jadi daging”.

Nah, kenapa aku kurus?

Jawabanya bisa jadi karena beberapa faktor diatas.

Deru Tiga Dara

“Kamu ini kenapa, Anakku?” Tanya ibunda Yusuf

“Aku ndak apa-apa, Bunda.” Jawab Yusuf

“Kamu jangan bohong. Cerita pada Bunda.”

“Bun… Niken…”

“Niken, Niken mantan istrimu itu?”

“Iya.”

“Kenapa lagi? Bukannya urusanmu dengan Niken sudah selesai semuanya?”

“Iya. Tapi, kini anaknya sekolah di tempat aku ngajar, Bun…”

“Duh, Gusti… Lantas kamu ketemu dia? Duh, Bunda ini udah nggak mau dengar nama dia lagi, Nak. Bunda masih kecewa dengan sikapnya waktu itu! Kok ada ya, istri meninggalkan suaminya sendiri demi lelaki lain”

“Sudahlah, Bun. Niken kan mencintainya. Dan Yusuf yakin bisa lewatin ini semua.”

“Omong-omong, kamu juga ketemu suaminya?”

“Nggak, Bun. Oh ya, Bun…”

“Nama anaknya Kamela. Ayu tenan, Bun…”

“Tapi itu bukan cucu Bunda, kan?! Sudahlah, Nak. Kamu lebih baik segera cari penggantinya. Sudah tujuh tahun lho. Masa kamu mau jadi duda terus? Bundamu ini pengen nimang cucu juga…”

“Iya. Sabar ya, Bunda…”

“Oh ya, bagaimana dengan Lingga.”

“Dia baik.”

“Duh, Bunda itu kok seneng ya lihat Nak Lingga itu. Ayu, baik, dan Bunda mau kalau Lingga kamu jadikan istri, Nak.”

Yusuf tersenyum, “Bunda ini ada-ada saja. Tapi, ndak tahu lah, Bun. Bunda jangan berharap banyak, ya. Yusuf takut nggak bisa memenuhinya. Apalagi soal jodoh. Bukankah itu rahasia gusti Allah, toh?

“Iya. Kalau begitu. Kamu istirahat dulu. Sudah malam.”

Begitulah keseharian Yusuf di rumah. Sering kali ia tertangkap basah oleh sang Bunda sedang melamun, dan ujung-ujungnya membahas soal Niken, Kamela, atau pun Lingga.

***

SD Harapan Bangsa. Suatu Pagi

Anak-anak berdatangan dengan riang gembira. Mereka takut terlambat masuk sekolah. Di tengah hirup pikuk pagi di SD Harapan Bangsa. Yusuf datang dengan sepeda motornya. Lantas, diam diparkiran. Lama. Hingga tak ia rasa, seorang menghampirinya.

Pak Guru…” suara gadis, “Kamela,” betik Yusuf dan lalu menoleh. Benar, ada dua wanita. Kamela dan Niken. Melihat itu, Kamela menciumi tangan Yusuf dan Niken, setelahnya masuk ke ruang kelas. Menyisakan dua insan, adam dan hawa. Yang pernah bersama lalu terpisah lama, lalu sekarang kembali berjumpa.

“Ibu Niken. Maaf, saya permisi ke kelas dulu.” Ucap Yusuf

“Mas… tunggu…”

Yusuf menghentikan langkah dan menghadapkan dirinya pada Niken, “Ada apa, Bu?

“Tolong panggil saja, aku Niken, Mas.”

“Iya, ada apa Nik?”

“Apa kabar, Mas?”

“Aku kabar baik. Kamu bagaimana?”

“Aku juga baik.”

“Syukurlah. Kalau begitu, aku permisi.”

“Iya… Hati-hati… Nik…”

“Makasih, Mas.”

Mereka sebenarnya tak mau berpisah. Seakan ada magnet yang menahan mereka. Tapi tak bisa. Mereka melawan. Dan dari jauhan lubuk hati mereka masing-masing terdengar dendang lantunan syair Ruth Sahanaya, Andaikan Kau Datang…

               Andaikan Kau Datang Kembali

Jawaban Apa Yang Kan Kuberi

Adakah Jalan Yang Kau Temui

Untuk Kita Kembali Lagi

 

***

 

Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Yusuf dan Lingga baru saja pulang dari nonton di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Malam ini malam minggu. Seharusnya  banyak ingin yang pelan-pelan tenggelam dalam keteduhan malam. Tapi mereka belumlah terikat. Apa daya, kenapa sulit untuk berkata jujur. Lingga merasakan rasa sakit yang dalam ketika mendengar cerita Yusuf soal kembalinya Niken. Walaupun belum kembali dalam artian rujuk. Lingga, diam-diam menaruh cinta! Dan tak butuh lama lagi akan membuatnya merana, jika terus di pendam dalam dada.

“Mas…” Tanya Lingga

Yusuf menoleh, “Ada apa, Ling?

“Makasih ya, untuk hari ini.”

“Iya. Sama-sama. Tadi acaranya bagu, ya?!”

Iya.” Lingga mengumpulkan energi lebih, berusaha menatap Yusuf. Lekat. “Mas, boleh aku ajukan pertanyaan?

“Tentu, bolehlah. Ling, ada apa?”

“Aku mulai jatuh cinta, Mas.”

“Wah, syukurlah kalau begitu! Akhirnya, siapakah lelaki beruntung itu, Ling?”

“Lelaki itu ada di dekatku, kini”

Yusuf tercenung. Ia ragu, atas apa yang didengarnya itu. Tapi telinga hati tak pernah bisa dibohongi. “Maksud kamu apa, Ling?” Tanya Yusuf berusaha mencari klarifikasi.

“Lelaki itu, Mas Yusuf”

Lingga tiba-tiba lari. Menjauh pergi. Padahal Yusuf belum menjawab apa-apa. Sepertinya Lingga takut atas kenyataan yang akan terlontar dari bibir lelaki yang dicintainya itu. Yusuf mengejar Lingga, dan menemuinya sedang duduk termenung di halaman teater sambil berisak.

Yusuf mendekati Lingga, dan duduk di sampingnya. Memberikan sehelai sapu tangan. “Apa yang kamu katakana itu, sungguh?

Tanpa kata Lingga hanya mengangguk.

“Apakah aku harus menjawabnya?”

Sekali lagi hanya anggukan dari Lingga

“Kalau begitu. Ayo kita pulang. Sudah malam. Nanti kita bicarakan soal ini lagi.” Ajak Yusuf. Dan Lingga mengiyakan.

***

 

 

Mamah, kenapa mamah nangis?” Tanya Kamela.

“Kamela, siapa yang nangis. Mamah nggak nangis, kok. Bagaimana PR-nya, sudah dikerjain?”

“Sudah, Mah. Ih, Mamah jangan bohong. Itu ada air mata di mata Mamah…”

“Kamela, sayang. Boleh Mamah Tanya sesuatu?”

“Ya, boleh dong, Mah! Kamela kan semester lalu juara kelas, jadi pasti bisa jawab.”

Niken tersenyum dan mengenulis anak semata wayangnya itu, “Kamela, Pak Guru Yusuf, menurut Kamela bagaimana, baik atau jahat?”

“Hm… Baik banget, Mah. Aneh deh, Kamela jadi malu ama teman-teman.”

“Malu, kenapa?”

“Pak Guru, perhatiannya berlebihan pada Kamela, Mah. Jadinya Kamela takut teman-teman berpikiran aneh. Ama Kamela”

“Hm… jadi kayak Papah, ya?”

“Iya, Mah.”

Niken lantas mengajak Kamela ke kamar. Hari sudah larut. Ciuman mesra di kening dan pipi sebagai akhir hari…

***

“Sudah. Kamu terima saja…” Titah Bunda

“Maksud Bunda apa?”

“Maksud Bunda, udah, kamu terima saja tembakan Lingga malam minggu kemaren. Kasihan, jangan lama-lama. Dia pasti menyimpan lara di hati.”

“Tapi, Bun…”

“Tapi apa anakku?”

“Nggak apa-apa Bunda…”

Malam terus berganti malam. Lingga kerap mengirimkan sms bernada kesetiaan menanti sebuah jawaban. Tapi, di hati Yusuf berkecamuk. Terkadang bayang mantan sang istri datang, dan Kamela pun terkenang dibenaknya. Ia bingung harus melakukan apa. Banyak hal yang harus Yusuf pertimbangkan. Ia memang harus segera berkeluarga. Tapi hanya dua wanita yang ada di hatinya kini. Lingga si gadis bermata biru berambut pirang, dan Niken si gadis Jogya yang ayu. Sejauh ini, Yusuf masih belum tahu soal, suami Niken. Dan bagaimana dengan Kamela. Yusuf hanya mampu mendengus di sudut kamarnya yang redup.

Dalam tahajjud dan hajatnya. Ia kerap melantunkan doa kepada yang kuasa :

Ya Allah

Aku dalam kebimbangan

Harapku cuma satu

Sebagaimana satunya Engkau

Batulah aku

Aku ingin yang terbaik untuk ketiga dara yang kerap ada di hati ini, kini

Ibuku, Lingga, dan Mantan istriku

Mohonku dalam

Teramat dalam ya Tuhan

Amiin

Dan airmata sujud tak ayal membasuhi sajadah lusuhnya.

***

Jelas ini sangat sulit bagi Yusuf. Deru Tiga Dara menjadikan Yusuf harus berpikir keras. Apakah Yusuf mampu memutuskan dan memberikan jawaban kepada Lingga, dan apakah jawaban Yusuf? Bagaimana dengan Niken? Dan, sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya? Jika sampai Yusuf memilih Niken, apakah Kamela dan Ibunya akan menerima? Atau adakah akhir yang tak tergapai akal sehat? Saksikan kelanjutannya akhir dari kisah ini dalam judul : Gadis Berkerudung Biru oleh Nurudin di abisabila.blogspot.com

 

Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com

Previous Older Entries